Select Menu

Menuju Surga dengan Al-Qur'an

Menuju Surga dengan Al-Qur'an

PELATIHAN

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

KERJASAMA

ROADSHOW

MOTIVASI AL-QURAN

Entri Populer

Roadshow

TAFSIR

KARYA

kerjasama

motivasi al-quran

» » Tafsir Surat al-Fatihah (Pendahuluan)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Abu Bakar bin al-Anbari meriwayatkan dari Qatadah, ia menuturkan, surat-surat dalam Alquran yang turun di Madinah adalah surat Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa’, Al-Maidah, Bara’ah, Ar-Ra’ad, An-Nahl, Al-Hajj, An-Nuur, Al-Ahzab, Muhammad, Al-Hujurat, Ar-Rahman, Al-Hadid, Al-Mujadalah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, Al-Munafiqun, At-Taghabun, Ath-Thalaq, dan ayat “Yaa ayyuhannabiyyu lima tuharrimu” sampai pada ayat kesepuluh, Az-Zalzalah, dan An-Nashr. Semua surat di atas diturunkan di Madinah, dan surat-surat yang lainnya diturunkan di Mekah.


Jumlah ayat di dalam Alquran ada 6000 ayat. Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai jumlah yang lebih dari enam ribu tersebut. Di antaranya ada yang menyatakan tidak lebih dari enam ribu tersebut. Di antaranya ada yang menyatakan tidak lebih dari jumlah itu, ada pula yang menyatakan jumlahnya 6236. Demikian disebutkan oleh Abu Amr al-Dani dalam kitabnya al-Bayan.

Mengenai jumlah kata, menurut al-Fadhl bin Syadzan dari Atha’ bin Yasar sebanyak 77.439 kata. Adapun mengenai hurufnya, Salam Abu Muhammad al-Hamami mengatakan, al-Hajjaj (al-Hajjaj bin Yusuf-pent.) pernah mengumpulkan para qurra’ (ahli bacaan Alquran), huffadz (para penghafal Alquran), dan kuttab (para penulis Alquran), lalu ia mengatakan, “Beritahukan kepadaku mengenai Alquran secara keseluruhan, berapa hurufnya?” Setelah dihitung, mereka sepakat bahwa jumlahnya 340.740 huruf. Kemudian Hajjaj mengatakan, “Sekarang beritahukan kepadaku mengenai pertengahan Alquran.” Dan ternyata pertengahan Alquran itu adalah huruf “Fa” dalam kalimat “walyatalathof” pada surat Al-Kahfi.

Para ulama berbeda pendapat mengenai arti kata surat, dari kata apa ia diambil? Ada yang berpendapat bahwa kata “al-suuroh” itu berasal dari kata “al-ibaanah” (kejelasan) dan “al-irtifaa’” (ketinggian).

Seorang penyair, an-Nabighah, mengatakan, “Tidakkah engkau mengetahui, bahwa Allah telah memberimu kedudukan yang tinggi, yang engkau melihat setiap raja di hadapannya merasa bimbang.”

Dengannya pembaca berpindah dari satu tingkatan ke tingkatan lainnya. Ada yang mengatakan, karena kemuliaan dan ketinggiannya laksana pagar negeri. Ada juga yang mengatakan disebut surat karena ia potongan dan bagian dari Alquran yang berasal dari kata “asraaru alinaa”, yang berarti sisa dari bagian kata yang asalnya berhamzah, kemudian hamzah tersebut diganti menjadi (dhammah) wawu karena huruf sebelumnya berdhammah. Ada juga yang mengatakan, disebut surat karena kelengkapan dan kesempurnaannya, karena bangsa Arab menyebut unta yang sempurna dengan surat. Menurut penulis, boleh juga berasal dari rangkuman dan liputan terhadap ayat-ayat yang dikandungnya, seperti halnya pagar negeri disebut demikian karena meliputi rumah dan tempat tinggal penduduknya.

Jama’ “al-surah” adalah “suwarun”. Ada juga yang menjama’nya dengan kata “suuraat” dan “suwaraat”. Adapun ayat merupakan tanda pemutus kalimat sebelumnya dengan yang sesudahnya, artinya terpisah dan tersendiri dari lainnya. Allah  berfirman, “Inna ayatu mulkihi (sesungguhnya ayat (tanda) kekuasaan-Nya).” (Al-Baqarah: 248).
An-Nabighah berkata, “Aku membayangkan ciri-cirinya, maka aku pun men
genalnya. Setelah berlalu enam tahun dan sekarang yang ketujuh.”
Ada juga yang menyatakan disebut ayat karena ia merupakan kumpulan dan kelompok huruf-huruf Alquran. Sebagaimana dikatakan, mereka keluar dengan ayatnya, yaitu dengan kelompoknya.

Seorang penyair mengatakan, “Kami keluar dari Nagbain, tiada kampung seperti kami. Dengan membawa serta kelompok kami, kami menggiring ternak unta.”

Ada juga yang menyatakan, disebut “aayatun?” karena ia merupakan suatu keajaiban yang tak sanggup manusia berbicara sepertinya. Sibawaih mengatakan, kata itu berasal dari kata “ayayatun”, seperti “akmaatun” dan “syajaratun” lalu huruf “ya” yang satu berubah menjadi alif, sehingga menjadi ” aayatun”. Jama’nya adalah “ayyun” atau “ayatun”.
Adapun yang dimaksud kalimat (kata) itu adalah satu lafaz saja, tetapi bisa juga terdiri dari dua huruf, misalnya “maa”, “laa”, dan lain sebagainya. Atau, bahkan lebih dari dua huruf, dan paling banyak adalah sepuluh huruf, misalnya “fa asqainakumuhu. Dan, terkadang satu kalimah menjadi ayat. Abu Amr ad-Daani mengatakan, “aku tidak mengetahui satu kalimah merupakan satu ayat, kecuali firman Allah “mudammataan” yang terdapat dalam surat Ar-Rahman.”

Al-Qurthubi mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa di dalam Alquran tidak terdapat sedikit pun suatu susunan kata yang a’jamiy (non Arab). Dan, mereka sepakat bahwa di dalam Alquran itu terdapat beberapa nama asing (non-Arab) misalnya lafazh Ibrahim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1: 1).
Disebut Al-Fatihah artinya pembukaan kitab secara tertulis. Dengan Al-Fatihah itu dibuka bacaan di dalam salat.

Anas bin Malik menyebutkan, Al-Fatihah itu disebut juga Ummul Kitab menurut jumhurul ulama. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan al-Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia menuturkan, Rasulullah bersabda, “alhamdulillahi rabbil “alamin” adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan Alquranul Azhim.”

Surat ini disebut juga dengan sebutan al-Hamdu dan ash-Shalah. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah saw, dari Rabbnya, Dia berfirman, “Aku membagi salat antara diriku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika seorang hamba mengucapkan, ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, maka Allah berfirman, Aku telah dipuji oleh hamba-Ku.”

Al-Fatihah disebut Ash-Shalah, karena Al-Fatihah itu sebagai syarat sahnya salat. Selain itu, Al-Fatihah disebut juga Asy-Syifa’. Berdasarkan hadis riwayat ad-Darimi dari Abu Sa’id, sebagai hadis marfu’, “Fatihatul kitab itu merupakan syifa’ (penyembuh) dari setiap racun.”

Juga disebut ar-Ruqyah. Berdasarkan hadis Abu Sa’id, yaitu ketika menjampi (ruqyah) seseorang yang terkena sengatan, maka Rasulullah saw bersabda, “Dari mana engkau tahu bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah.”

Surat Al-Fatihah diturunkan di Mekkah (Makkiyah). Demikian dikatakan Ibnu Abbas, Qatadah, dan Abu al-’Aliyah. Tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa surat ini turun di Madinah (Madaniyah). Inilah pendapat Abu Hurairah, Mujahid, Atha’ bin Yasar, dan az-Zuhri. Ada yang berpendapat, surat Al-Fatihah turun dua kali, sekali turun di Mekah dan yang sekali lagi di Madinah.

Pendapat pertama lebih serupa dengan firman Allah, “Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu sab’an minal matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang).” (Al-Hijr: 87). Wallahu a’lam.

Dan surat ini, secara sepakat, terdiri dari tujuh ayat. Hanya saja terdapat perbedaan pada masalah basmalah, apakah sebagai ayat yang berdiri sendiri pada awal surat Al-Fatihah, sebagaimana menurut kebanyakan para qurra’ Kufah, dan pendapat segolongan sahabat dan tabi’in, atau bukan sebagai ayat pertama dari surat tersebut, sebagaimana yang dikatakan para qurra’ dan ahli fiqih Madinah. Mengenai hal ini terdapat tiga pendapat, yang insya Allah akan dikemukakan pada pembahasan berikutnya.

Mereka mengatakan, surat Al-Fatihah terdiri dari 25 kata dan 113 huruf. Al-Bukhari mengatakan dalam awal kitab tafsir, “Disebut Ummul Kitab, karena Al-Fatihah ditulis pada permulaan Alquran dan mulai dibaca pada permulaan salat. Ada juga yang berpendapat, disebut demikian karena seluruh makna Alquran kembali kepada apa yang dikandungnya.”

Ibnu Jarir mengatakan, orang Arab menyebut “umm” untuk semua yang mencakup atau mendahului sesuatu jika mempunyai hal-hal lain yang mengikutinya dan ia sebagai pemuka yang meliputinya. Seperti umm al-ra’s, sebutan untuk kulit yang mengandung otak. Mereka menyebut bendera dan panji tempat berkumpulnya pasukan dengan umm.

Dzu ar-Rummah mengatakan, “Pada ujung tombak itu terdapat panji kami, yang menjadi lambang bagi kami, sebagai pedoman segala urusan, yang sedikitpun tak kan kami meng-khianatinya.” 

Maksudnya tombak. Mekah disebut umm al-Qura karena keberadaannya terlebih dahulu dan sebagai penghulu bagi kota-kota lain. Ada juga yang berpendapat karena bumi terbentang darinya.
Dan, benar disebut as-Sab’ul Matsani karena dibaca berulang-ulang dalam salat, pada setiap rakaat, meskipun kata al-Matsani memiliki makna lain, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah.

Keutamaan Al-Fatihah 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id bin al-Muallat, katanya, “Aku pernah mengerjakan salat, lalu Rasulullah saw memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya, hingga aku menyelesaikan salat. Setelah itu, aku mendatangi beliau, maka beliau pun bertanya, ‘Apa yang menghalangimu datang kepadaku?’ Maka aku menjawab, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sedang mengerjakan salat’. Lalu beliau bersabda, ‘Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyerumu kepada yang memberi kehidupan kepadamu’. ( Al-Anfal: 24). Dan, setelah itu beliau bersabda, ‘Akan aku ajarkan kepadamu suatu surat yang paling agung di dalam Alquran sebelum engkau keluar dari masjid ini’. Maka, beliau pun menggandeng tanganku. Dan, ketika beliau hendak keluar dari masjid, aku katakan, ‘Ya Rasulullah, engkau tadi telah berkata akan mengajarkan kepadaku surat yang paling agung di dalam Alquran’. Kemudian beliau menjawab, ‘Benar’, “Al hamdulillahi rabbil ‘alamin”, ia adalah as-Sab’ul Matsani dan Alquran al-Azhim yang telah diturunkan kepadaku.”

Demikian pula yang diriwayatkan al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui beberapa jalan dari Syu’bah, para ulama menjadikan hadis ini dan semisalnya sebagai dalil keutamaan dan kelebihan sebagian ayat dan surat atas yang lainnya, sebagaimana disebutkan banyak ulama, di antaranya Ishak bin Rahawaih, Abu Bakar Ibnu al-Arabi, Ibnu al-Haffar seorang penganut mazhab Maliki.

Sementara, sekelompok lainnya berpendapat bahwasanya tidak ada keutamaan suatu ayat atau surat atas yang lainnya, karena semuanya merupakan firman Allah Ta’ala. Supaya hal itu tidak menimbulkan dugaan adanya kekurangan pada ayat yang lainnya, meski semuanya itu memiliki keutamaan. Pendapat ini dinukil oleh al-Qurthubi dari al-Asy’ari, Abu Bakar al-Baqillani, Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti, Abu Hayyan, Yahya bin Yahya, dan sebuah riwayat dari Imam Malik.

Ada hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab Fadhailul Qur’an, dari Abu Sa’id al-Kudri, katanya, “Kami pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu kami singgah, tiba-tiba seorang budak wanita datang seraya berkata, “Sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak berada di tempat, apakah di antara kalian ada yang bisa memberi ruqyah?” Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri bersamanya, yang kami tidak pernah menyangkanya punya ruqyah. Kemudian orang itu membacakan ruqyah, maka kepala sukunya itu pun sembuh. Lalu, ia (kepala suku) menyuruhnya diberi tiga puluh ekor kambing, sedang kami diberi minum susu. Setelah ia kembali, kami bertanya kepadanya, “Apakah engkau memang pandai dan biasa meruqyah?” Maka ia pun menjawab, “Aku tidak meruqyah, kecuali dengan ummul kitab (Al-Fatihah).” “Jangan berbuat apa pun sehingga kita datang dan bertanya kepada Rasulullah saw,” sahut kami. Sesampai di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi saw, maka beliau pun bersabda, “Dari mana dia tahu bahwa surat Al-Fatihah itu sebagai ruqyah (jampi), bagi-bagilah kambing-kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku.” Demikian pula riwayat Muslim dan Abu Dawud.

Hadis lainnya, riwayat Muslim dalam kitab sahih an-Nasa’i dalam kitab sunan dari Ibnu Abbas, katanya, “Ketika Rasulullah saw sedang bersama malaikat Jibril, tiba-tiba Jibril mendengar suara dari atas. Maka, Jibril mengarahkan pendangannya ke langit seraya berkata, “Itulah pintu telah dibuka dari langit yang belum pernah terbuka sebelumnya.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Dari pintu itu turun malaikat dan kemudian menemui Nabi saw seraya berkata, ‘Sampaikanlah berita gembira kepada umatmu mengenai dua cahaya. Kedua cahaya itu telah diberikan kepadamu, yang belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang nabi pun sebelum dirimu, yaitu fatihatul kitab dan beberapa ayat terakhir surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf saja darinya melainkan akan diberi (pahala) kepadamu’.”

Lafaz hadis di atas berasal dari al-Nasa’i. Lafaz yang sama juga diriwayatkan Muslim. Muslim juga meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan salat tanpa membaca ummul Qur’an, maka salatnya itu tidak sempurna… tidak sempurna… tidak sempurna.”

Dikatakan kepada Abu Hurairah, “Kami berada di belakang imam.” Maka Abu Hurairah berkata, “Bacalah Al-Fatihah itu di dalam hatimu, karena aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah Ta’al berfirman, ‘Aku telah membagi salat dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta’. Jika ia mengucapkan, ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Dan jika ia mengucapkan, ‘ Arrahmanirrahimi’, maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku’. Jika ia mengucapkan, ‘Malikiyaumiddin’, maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku’. Dan pernah Abu Hurairah menuturkan, ‘Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku’. Jika ia mengucapkan, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’, maka Allah berfirman, ‘Inilah bagian diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta’. Dan jika ia mengucapkan, ‘Ihdinashirathalmaustqim shirathaladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladholin’, maka Allah berfirman, ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula yang apa yang ia minta’.” (Demikian pula diriwayatkan an-Nasa’i).

Penjelasan mengenai hadits tersebut yang khusus tentang al-Fatihah (lihat kajian sebelim ini), terdiri dari beberapa hal:
Pertama, disebutkan dalam hadis tersebut kata salat, dan maksudnya adalah bacaan, seperti firman Allah, “Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya serta carilah jalan tengah di antara keduanya itu.” (Al-Isra’: 110).

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih dari Ibnu Abbas. Demikian pula firman Allah dalam hadis ini, “Aku telah membagi salat dua bagian di antara diriku dengan hamba-Ku. Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Kemudian Dia jelaskan pembagian itu secara rinci dalam bacaan Al-Fatihah. Hal itu menunjukkan keagungan bacaan Al-Fatihah dalam salat merupakan rukun utama. Apabila disebutkan kata ibadah dalam satu bagian, sedangkan yang dimaksud satu bagian lainnya, artinya bacaan Al-Fatihah. Sebagaimana disebutnya kata bacaan sedang maksudnya adalah salat itu sendiri, dalam firman-Nya, “Dan dirikanlah salat Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Isra: 78). Sebagaimana secara jelas disebutkan di dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim, “Salat Subuh itu disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang.”

Semuanya itu menunjukkan bahwa menurut kesepakatan para ulama, bacaan Al-Fatihah dalam salat merupakan suatu hal yang wajib.
Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai apakah selain Al-Fatihah ada surat tertentu yang harus dibaca, atau cukup Al-Fatihah saja? Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Menurut Abu Hanifah, para pengikutnya, dan juga yang lainnya, bahwasanya bacaan Alquran itu tidak ditentukan, tetapi surat atau ayat apa pun yang dibaca, maka akan memperoleh pahala. Mereka berhujjah dengan keumuman firman Allah Ta’ala, “Maka bacalah olehmu apa yang mudah bagimu dari Alquran.” ( Al-Muzzammil: 20).

Dan hadis yang terdapat dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra mengenai kisah orang yang ku-rang baik dalam mengerjakan salatnya, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Jika engkau mengerjakan salat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Alquran.”

Menurut mereka, Rasulullah memerintahkannya untuk membaca yang mudah dari Alquran dan beliau tidak menentukan bacaan Al-Fatihah atau surat lainnya. Hal itu yang menjadi pendapat kami.

Kedua, diharuskan membaca Al-Fatihah dalam salat, dan tanpa Al-Fatihah maka salatnya tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, para sahabat mereka, serta jumhurul ulama. Pendapat mereka ini didasarkan pada hadis yang disebutkan sebelumnya, di mana Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengerjakan suatu salat, lalu ia tidak membaca ummul kitab di dalamnya, maka salatnya itu terputus.” (HR Muslim, al-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw).

Selain itu, mereka juga mendasarkannya pada hadis yang terdapat dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim, dari az-Zuhri, dari Mahmud bin az-Rabi’, dari Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tidak sah salat bagi orang yang tidak membaca ‘fatihatul kitab’.”

Dan diriwayatkan dalam sahih Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Tidak sah salat yang di dalamnya tidak dibacakan ummul Quran.”
Hadis-hadis mengenai hal ini sangat banyak, dan terlalu panjang jika kami kemukakan di sini tentang perdebatan mereka. Dan kami telah kemukakan pendapat mereka masing-masing dalam hal ini. Kemudian, Imam Syafi’i dan sekelompok ulama berpendapat bahwa bacaan Al-Fatihah wajib dilakukan pada setiap rakaat dalam salat. Sedang ulama lainnya menyatakan, bacaan Al-Fatihah itu hanya pada sebagian besar rakaat. Hasan Al-Bashri dan mayoritas ulama Bashrah mengatakan, bacaan Al-Fatihah itu hanya wajib dalam satu rakaat saja pada seluruh salat, berdasarkan pada kemutlakan hadis Rasulullah saw, dimana beliau bersabda, “Tidak sah salat bagi orang yang tidak membaca ‘fatihatul kitab’.”

Sedangkan Abu Hanifah dan para sahabatnya, ats-Tsauri, serta al-Auza’i berpendapat, bacaan Al-Fatihah itu bukan suatu hal yang ditentukan (diwajibkan), bahkan jika seseorang membaca selain Al-Fatihah, maka ia tetap mendapatkan pahala. Hal itu didasarkan pada firman Allah, “Maka bacalah olehmu apa yang mudah bagimu dari Alquran.” (Al-Muzzammil: 20). Wallahu a’lam.

Ketiga, Apakah makmum juga berkewajiban membaca Al-Fatihah? Mengenai hal ini terdapat tiga pendapat di kalangan para ulama:

Pendapat pertama, setiap makmum tetap berkewajiban membaca Al-Fatihah sebagaimana imam. Hal itu didasarkan pada keumuman hadis di atas.

Pendapat kedua, tidak ada kewajiban membaca Al-Fatihah atau surat lainnya bagi makmum sama sekali, baik dalam salat jahr (bacaan yang dikeraskan) maupun salat sirri (tidak dikeraskan). Hal itu didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab al-Musnad, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa salat bersama seorang imam, maka bacaan imam itu berarti bacaan untuk makmum juga.” Namun, hadis ini memiliki kelemahan dalam isnadnya. Dan diriwayatkan Imam Malik dari Wahab bin Kaisan, dari Jabir. Juga diriwayatkan dari beberapa jalan dan tidak satupun berasal dari Nabi saw. Wallahu a’lam.

Pendapat ketiga, Al-Fatihah wajib dibaca oleh makmum dalam salat sirri, dan tidak wajib baginya membaca dalam salat jahri. Hal itu sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Sahih Muslim, dari Abu Musa al-Asy’ari, katanya, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya imam itu dijadikan sebagai panutan. Jika ia bertakbir, maka hendaklah kalian bertakbir. Dan jika ia membaca (Al-Fatihah atau surat Alquran), maka simaklah oleh kalian….” (Dan seterusnya).

Demikian pula diriwayatkan oleh para penyusun kitab as-Sunan, yaitu Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah yang berasal dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda, “Jika imam membaca (Al-Fatihah atau surat Alquran), maka simaklah oleh kalian.” Hadis ini telah dinyatakan sahih oleh Muslim bin Hajjaj. Kedua hadis di atas menunjukkan kesahihan pendapat ini yang merupakan Qaulun qadim (pendapat lama) Imam Syafi’i rahimahullahu, dan satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Dan maksud dari pengangkatan masalah-masalah tersebut di sini adalah untuk menjelaskan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan surat Al-Fatihah dan tidak berkenaan dengan surat-surat lainnya.

Bersambung..

About Sohibul Qur'an

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Silahkan kommentar anda, jangan sungkan-sungkan