Select Menu

Menuju Surga dengan Al-Qur'an

Menuju Surga dengan Al-Qur'an

PELATIHAN

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

KERJASAMA

ROADSHOW

MOTIVASI AL-QURAN

Entri Populer

Paket Menghafal

TAFSIR

KARYA

kerjasama

motivasi al-quran

» » Al-Qur'an & Hadits, Referensi Utama Ajaran Islam
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Mukaddimah
 
                Syariah Islam adalah syariat yang syamil dan mutakamil (komprehensif dan Integral) untuk semua lini kehidupan umat manusia. Khususnya umat muslim yang akan membangun kehidupan ini berlandaskan hukum Tuhannya. Dengan bersumberkan al-Qur’an dan hadits, dinul Islam menjadi sempurna yang mencakup seluruh dimensi hidup mereka. Apalagi, jika semua ajaran yang terkandung di dalam keduanya terealisasikan dengan baik, tentu masyarakat akan menjadi damai dan diridhoi Allah swt. Allah swt berfirman:


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ اْلقُرَى آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ ِبمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: “Seandainya penduduk suatu desa beriman dan bertakwa niscaya kami bukakan atas mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustai, maka Kami siksa mereka atas apa yang telah mereka perbuat.”(Qs al-A’raf: 96)

                Namun, syariat Islam belum akan sempurna dalam realita kehidupan bermasyarakat dan bernegara, jika sumber referensi utama, yakni al-Qur’an dan Hadits belum dipahami dan diserap dengan baik oleh setiap individu muslim dan muslimahnya. Kita mengerti, syariat Islam yang terefleksi muatannya dalam al-Qur’an, kemudian diperjelas oleh hadits, lalu dijabarkan secara detail dalam bidang ilmu fikih dan muamalah, baru akan memberikan aroma perealisasiannya ketika sumber utamanya, yakni al-Qur’an dan hadits dipahami secara benar.

                Saat ini banyak di kalangan para penuntut ilmu lebih cenderung memilih mata kuliah umum ketimbang ilmu-ilmu syariat Islam atau ilmu-ilmu Al-Qur’an dan hadits. Banyak factor yang melatarbelakangi pilihan mereka ini. Di antaranya mungkin sebagian memahami bahwa jurusan atau mata kuliah al-Qur’an, al-Hadits dan syariah sudah terlalu banyak digeluti oleh para alumni Timur Tengah yang memang notabene ketika pulang sudah memiliki pemahaman keislaman yang baik dan memadai. Sebagian lainnya memutuskan memilih fakultas umum dengan pertimbangan masa depan ekonomi mereka. Ada juga yang menentukan pilihannya karena mata kuliah umum lebih prosfektif untuk kebutuhan kekinian dan bisa diandalkan untuk mencover kesempatan kerja yang lebih baik dan menjanjikan dibandingkan jurusan agama dan sejenisnya. Ada juga mengambil jurusan umum lantaran mengikuti tren yang ada. Dan lain sebagainya dari berbagai alasan pragmatis yang ada. Tentu saja kita tidak menyalahkan dan menafikan semua alasan ini. Karena, setiap kita memang memiliki muyul (kecenderungan) yang berbeda-beda. Dan justru karena perbedaan dan keberagaman dalam menentukan pilihan itulah kemudian kita semua bisa saling melengkapi dan dapat berbagi.

Fenomena Keilmuan yang menyedihkan:

                Banyak para penuntut ilmu dari kalangan mahasiswa (mahasiswa Islam khususnya) menjatuhkan pilihan masa depan akademik mereka pada bidang umum, dengan alasan agar kelak prospek hidup mereka cerah dan lebih menjanjikan. Setidaknya apabila diteropong dari kacamata ekonomi. Pilihan ini memang tidak dilarang. Bahkan dianjurkan oleh Islam, di mana pilihan itu kelak bisa memberikan manfaat yang besar buat kemajuan umat dan individu secara umum. Katakan saja, misalnya bidang sains, politik, seni-budaya, kesehatan masyarakat dan lain sebagainya. Tentu saja, Islam sangat menganjurkan siapa saja untuk menggeluti suatu disiplin ilmu yang menjadi kecenderungannya sebagaimana yang kita singgung di atas.
                Tapi, yang justru memprihatinkan kita bersama adalah ketika semua bidang itu digeluti untuk suatu kepentingan yang sifatnya pragmatis. Dalam arti, mengambil suatu jurusan agar mudah mencari kerja yang lebih menjanjikan. Baik menjanjikan secara pendapatan maupun kepuasan akademik dan pemikiran. Dorongan sisi sosial dan memberikan kemanfaatan yang lebih baik kurang diperhatikan. Wajar saja, jika kemudian para alumni yang lulus dari jurusan umum dengan dorongan pragmatis ini sangat fenomenal. Pertimbangan kemanfaatan sosial dan kaitan dengan bidang keislaman nihil sama sekali. Inilah sisi yang memprihatinkan. Karena itu, jangan kaget apabila jurusan disiplin keilmuan Islam dan syariat minim peminat. Bahkan nyaris ditinggalkan. Selain karena dorongan keagamaan yang minim, juga disebabkan karena oleh masa depan yang kurang menjanjikan. Ini mungkin sisi yang cukup membuat kita mengelus-elus dada.

                Namun, hal ini tidak hanya terjadi pada penuntut ilmu dengan jurusan bidang umum. Bahkan, hal ini juga terjadi pada mahasiswa yang memutuskan mengambil fakultas syariah, Tarbiyyah, ilmu al-Qur’an dan Hadits dan lain sebagainya. Sebagian mereka jauh-jauh hari melihat prospek peluang kerja yang juga cukup menjanjikan. Misalnya, kelak apabila lulus dari suatu jurusan agama, mereka bisa langsung menembus ke suatu instansi pemerintah yang memiliki link atau kerjasama dengan kampusnya. Sehingga penyaluran SDM untuk suatu bidang tertentu bisa lebih terbuka dan mudah. Ya, tentu saja di sini sah-sah saja dilakukan. Karena berkhidmat untuk kepentingan umat dan negara sesuai dengan bidang yang kita miliki sangat baik. Malah Islam mengajurkan. Dengan tujuan agar dapat menjadi penyeimbang rotasi kerja dan sharing manfaat. 

Tapi sebaliknya, akan sangat menyedihkan apabila tujuan ini menjadi pragmatis. Misalnya supaya bisa mendapatkan fasilitas yang lebih menjanjikan dari segi ekonomi, seperti fasilitas mendapatkan Haji Abidin (atas biasa dinas). Selama fasilitas ini memang termaktub dalam undang-undang yang berlaku dan mendorong yang bersangkutan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat di bidangnya itu, maka sah-sah saja. Berarti hal itu merupakan khidmat yang dibalas dengan nikmat.

Kita diperintahkan oleh Allah adalah untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain.”
Namun, sebaliknya apabila pemanfaatan fasilitas dilakukan dengan cara-cara yang kurang prosedural atau dengan menyalahi kaidah moralitas dan mementingkan diri sendiri, maka itu sangat tidak dibenarkan.

Inilah sisi yang seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar orang. Memberikan manfaat sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya kepada orang banyak. Tentu dengan tetap mempertimbangkan skala prioritas dan proporsional selain professionalisme. Sebab banyak orang yang memberikan manfaat kepada orang lain untuk pamrih atau disebut-sebut orang, disanjung status sosialnya, atau mendapat tempat di hati masyarakat. Jelas saja, ini suatu tujuan yang pragmatis. Seandainya kita memberikan manfaat yang terbaik kepada orang lain secara tulus tanpa embel-embel, Insya Allah balasannya Allah sendiri yang akan menanggung. Dan ganjaran pahala dari Allah sangatlah luas, tidak bisa diukur dengan kalkulasi dan logika manusia.

Peran al-Qur’an dan Hadits:

                Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber dan pelengkap ajaran Allah merupakan pegangan utama bagi kita selaku umat Islam. Segala peraturan dan ketentuan hidup kita sudah diatur di sana. Lalu, apakah yang sudah kita perbuat dalam menegakkan hukum keduanya? Apa yang sudah kita pahami dari nilai-nilai al-Qur’an? Dan apakah yang sudah kita amalkan dari ajaran suri teladan kita, Rasulullah Saw? Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing. Mungkin belum seberapa. Karena, sekalipun kita sudah menuntut ilmu setinggi langit, selama amal kita belum memberikan banyak manfaat kepada umat manusia, maka bisa jadi ada celah antara kita dengan ilmu kita itu. Atau bisa jadi juga belum sesuai dengan keinginan yang Allah kehendaki, sehingga menyebabkan ilmu itu kurang bermanfaat, sementara kita hafal hadits tentang amal shaleh yang kelak akan bermanfaat ketika kita kembali kepada Allah, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bisa membuat orang lain melek akan kebenaran dan mau membuatnya lebih mengenal Tuhannya.

                Nah, di sinilah peran ilmu al-Qur’an dan Hadits. 

Perlu kita ketahui bahwa fungsi dan peran al-Qur’an dalam kehidupan ini begitu vital. Di antaranya misalnya:

-          - Al-Qur’an Sebagai Kitab Arab Terbesar. Sebelum jauh-jauh kita belajar bahasa Arab sebagai bahasa dunia- dengan menggeluti dunia hadits, fikih, syair, siyasah (politik) dan lain sebagainya, maka al-Qur’an adalah Kitab bahasa Arab pertama dan terbesar yang harus kita perhatikan. Dengan kata lain, membukanya, lalu memperhatikannya dan membacanya dengan pemahaman merupakan suatu kewajiban. Taruhlah, sebagai insan Indonesia latar belakang kita bukanlah latar belakang orang Arab terdahulu yang jauh lebih mudah dalam memahaminya, -karena bahasa Arab memang bahasa ibu mereka. Tapi karena kita sebagai umat Islam yang ber-kitab-kan al-Qur’an, sudah sepantasnya kita bergelut dan berinteraksi dengan bahasa al-Qur’an ini. Kita semua harus bisa, mengingat al-Qur’an memiliki Dzauq (cita rasa) tersendiri yang jauh lebih enak ketimbang bahasa-bahasa lain yang ada di atas muka bumi ini. Dalam bahasa apapun ia digunakan misalnya. Bahasa Arab merupakan Bahasa Besar karena ia adalah pemersatu umat Islam di berbagai belahan dunia manapun dan kapanpun. Dan bisa dikatakan, tanpa ada Bahasa Al-Qur’an, umat Islam akan terpecah-belah dan bercerai-berai. Setiap muslim memiliki versi bahasanya masing-masing. Oleh karenanya, mempelajari al-Qur’an beserta displin ilmunya sudah menjadi kebutuhan umat. Dan sekali lagi ini terkait dengan kemauan umat dalam menuntut ilmu.

-          - Al-Qur’an Adalah Kitab Hidayah Terbesar.

Boleh kita katakan apapun logat bahasa dan gaya bicara seseorang dapat menghipnotis orang banyak. Selain berisikan tentang penggugah jiwa dan sentuhan hati, retorika itu sering menjadi rujukan seseorang dalam berbuat. Terutama ketika seseorang menghadapi berbagai permasalahan hidupnya. Maka bahasa motivasi inilah yang menjadi penyemangat untuk selalu berbuat dan menghadapi tantangan yang ada.

Tapi, yang perlu diingat oleh kita sebagai individu muslim adalah sebagus dan semanis apapun gaya bahasa seseorang sehingga dapat menggugah hati orang banyak, sebenarnya muatannya labil selama tidak bersandar pada keselarasannya dengan nilai-nilai positif al-Qur’an dan Hadits. Artinya, gaya bahasa manusia itu baru bisa dikatakan kuat dan tahan lama dalam mempertahankan semangat seseorang manakala ia sejalan dengan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Karena memang sebenarnya tidak ada kebenaran yang abadi selain kebenaran yang dibawa oleh Islam yang sumber utamanya adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, Saw. Di sinilah letak hidayah terbesar yang seharusnya dipertahankan oleh setiap individu muslim. Jangan lagi tertipu dengan terpedaya dengan gaya bahasa manusia yang banyak ‘menghipnotis’ selama sandaran kebenarannya tidak sejalan dengan keinginan al-Qur’an dan Hadits nabi.

                Mengenai ilmu-ilmu al-Qur’an setidaknya mencakup ilmu tentang wahyu itu sendiri, Makky dan Madany, mengenal surat yang pertama kali turun dan terakhir kali turun, asbabbun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) dan lain sebagainya. Sementara ilmu-ilmu hadits membahas tentang macam-macam hadits mulai dari hadits maudhu’ (palsu), dhaif, hasan lighairihi, hasan lizatihi hadits shahih, Musnad, Mauquf dan lain sebagainya. Belum lagi pembahasan lebih detail tentang sebab-sebab turunnya hadits nabi, di mana, siapa yang mendengar dan menghafalkanya dan seterusnya.

                Dan tentu saja, apabila kita telusuri lebih jauh tentang muatan bidang keilmuan keduanya, maka kita akan dibuat terkagum-kagum. Bagaimana tidak?! Al-Qur’an sebagai pedoman hidup seluruh manusia dan semesta alam dan hadits sebagai penjelas al-Qur’an secara detail yang terefleksikan dalam kehidupan manusia teladan, Rasulullah Saw, ternyata telah menerangkan semua kepentingan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya sebagai pelaku utama pemakmuran bumi seisinya. Mulai dari urusan domestik rumah tangga, masyarakat dan problematikannya, negara dengan segala permasalahannya, negara dengan hubungan politik dan diplomatik di antara mereka sampai urusan tempat kembali akhir setiap individu, baik yang muslim maupun non-muslim, yakni alam akhirat. Nah, semua ini dijabarkan secara global, detail dan rinci di dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Malah, bukan itu saja. Fenomena munculnya pengaburan historis Islam dan pemutarbalikan kebenaran juga diterangkan oleh hadits Rasulullah Saw. Siroh nabawiyyah adalah bidang pembahasannya. Luar biasa luasnya materi yang dibahas oleh al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw.

                Dari sinilah kemudian kita menjatuhkan pilihan mengapa bidang yang satu ini (yakni Ilmu-ilmu al-Qur’an dan hadits serta syariah) menjadi sangat penting di masa sekarang. Belum lagi kita memperhatikan merajalelanya para penganut pemikiran Islam yang ‘nyeleneh’ tentang ajaran Islam.
                Untuk itu, perlu adanya SDM (sumber daya manusia) yang memadai untuk menangkal deras arusnya pemikiran yang sudah banyak menyimpang dari ajaran Islam yang kaffah (menyeluruh) ini. Berangkat dari sini, keberadaan para pakar / spesialis tafsir dan hadits serta keilmuan syariah sangat mendesak, mengingat semakin minimnya sumber daya yang ada dan kurangnya kesadaran pemerintah untuk memberikan perhatian lebih kepada pusat-pusat pendidikan yang berlatar belakang Islam.

Kaitan Antara Ilmu al-Qur’an, Hadits dan Pengetahuan Umum:

                Tidak kita pungkiri bersama, setiap bidang keilmuan itu memiliki keistimewaannya masing-masing. Terlebih lagi apabila bisa menjawab kebutuhan umat yang sedang bermasalah. Tentu ganjaran pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah. Karena dalam istilah ushul fikih disebutkan bahwa الجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ اْلعَمَلِ (ganjaran pahala itu sesuai dengan jenis amalnya). Hal ini dibahas pada ilmu skala prioritas. Semakin besar sumbangsih seseorang terhadap kebutuhan umat yang sedang terjadi, maka akan semakit besar pula manfaatnya. Sepatutnya hal ini yang harus kita pahami dengan baik. Begitu pula, dalam hal menentukan suatu jurusan tertentu dalam bidang akademik keilmuan. Saat ini, mungkin dunia pendidikan sangat membutuhkan SDM-SDM yang memadai dalam suatu bidang ilmu yang bisa membuat moralitas suatu individu menjadi baik dan terangkat. Baik dari sisi akhlak dan moralitasnya sehingga bisa merubah kondisi manajemen dan birokrasi negara yang bermasalah, maupun terangkat kualitas spiritualnya di hadapan Allah swt karena memberikan manfaat yang besar.

                Sebagaimana yang kita ketahui disiplin keilmuan atau pengetahuan umum sangat banyak sekali jumlahnya seiring dengan kemajuan tehnologi yang semakin canggih karena hasil dari kreasi otak manusia. Dengan kemajuan tehnologi mau tidak mau instansi pendidikan yang ada harus menyesuaikan kurikulum pendidikan mereka agar diminati dan menjawab kebutuhan para anak didik. Namun, sangat disayangkan sekali tidak sedikit instansi pendidikan yang lebih mengutamakan mata pelajaran atau mata kuliah umum ketimbang muatan agamanya. Sebagiannya beralasan bahwa muatan pengetahuan umum harus diperbanyak agar kelak muatan intelektual pendidikan anak didik bisa lebih sejalan daripada muatan agamanya. Sedangkan porsi muatan bidang keagamaan diperkecil. Tentu ini sangat memprihatinkan. Ketika nilai-nilai agama dan kebutuhan terhadapnya sudah mulai berkurang, maka hal-hal yang tidak diinginkan pun muncul. Tidak sedikit kita saksikan peristiwa tawuran di kalangan pelajar, korupsi di kalangan birokrat dan tindakan asusila di kalangan mahasiswa terjadi. Bukankah ini semua karena minimnya muatan pendidikan agama dan hanya mengandalkan kepentingan pragmatis saja? Sebanyak apapun seseorang bisa pintar dan menguasai berbagai bidang pengetahuan umum, selama kering dari nilai-nilai agama, maka jangan diharapkan akan lahir generasi penerus dan pembangun bangsa ini. Karena umat dan bangsa hanya akan bisa dibangun dan terangkat kesejahteraannya manakala antara kebutuhan agama dan pengetahuan umumnya menyatu, bersinergi dan saling melengkapi. Ilmu pengetahuan umum tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya penopang yang memperkuat entitasnya semisal ilmu agama. Begitu pula ilmu agama akan terasa kering-kerontang tanpa output yang bagus tanpa diiringi dengan relevansi kemajuan zaman yang semakin modern. Jadi, keduanya saling melengkapi sisi-sisi kekurangannya. Itulah mengapa terkadang al-Qur’an dengan sisi mukjizatnya berbicara tentang satu hal dan pada kesempatan lain membahas hal yang berbeda. Kemudian menggabungkan keduanya secara bersamaan. Tidak lain untuk memperkuat hal tersebut dan menjadikan sesuatu yang penting diperhatikan oleh manusia.

Korelasi Mukjizat al-Qur’an dan Ilmu Saintis:

                Banyak contoh yang membahas tentang adanya korelasi antara Mukjizat al-Qur’an dengan kemajuan saintis yang menjadi penyebab seseorang kembali ke pangkuan Islam. Sebagai contoh misalnya tentang mukjizat alam semesta yang terus berkembang dan meluas. Mukjizat ini Allah sitir dalam sebuah ayat:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ
Artinya: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.”(Qs azd-Dzariyat: 47)

                Dalam Lisanul Arab, Ibnu Manzhur mengatakan bahwa yang dimaksud dengan بِأَيْدٍ yakni kekuasaan, seperti yang juga tersebut dalam ayat: وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُدَ ذَا اْلأَيْدِ (Dan ingatlah tentang hamba Kami Daud yang memiliki kekuasaan, Qs Shad: 17) dan firman-Nya: إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ yang artinya ‘Saat Aku kuatkan engkau dengan ruhul qudus.’ Surah al-Maidah. 

                Sebagian ulama falsafah dan logika berbeda pendapat tentang hal ini. katakanlah misalnya, Imam Ghazali yang pemikirannya cenderung kepada ilmu kalam dan Ibnu Rusyd yang pemikiran lebih cenderung pada ilmu falsafah. Imam Ghazali mengatakan: “Apakah Allah sanggup menciptakan alam semesta yang lebih dari sekaran ini?” Jika saya jawab ‘Tidak’ berarti saya telah meragukan kekuasaan Allah. Dan sebaliknya, apabila saya katakana ‘Ya’ berarti aku mengakui adanya celah di luar alam raya ini yang menyebabkan terjadi sebuah pembesaran alam jika Allah menghendaki ala mini terus mengembang (meluas).”

                Sedangkan Ibnu Rusyd yang tetap teguh pendirian dengan sikapnya falsafah Yunani berpendapat bahwa “Bertambah besar atau mengecilnya alam raya ini dari apa yang kita lihat ini adalah hal yang mustahil. Karena kemungkinan ini apabila terjadi, maka tidak ada alasan lagi untuk menghentikannya sampai pada batas tertentu. Oleh sebab itu kita harus menegaskan bahwa perluasan alam semesta ini tidak ada hentinya.” Perdebatan ini terjadi pada abad ke-6 Masehi. Sedangkan perluasan alam terus berkembang seiring dengan kemajuan tehnologi tepatnya pada abad ke-20 M.

                Ibnu Katsir mengatakan: “Maksudnya adalah bahwa tepi-tepinya telah Kami perluas dan Kami angkat tanpa tiang sehingga menjadi seperti yang kita alami sekarang ini.”

Hakikat Ilmiah:

§  Seorang ilmuwan Ilmu Falak Amerika, Edwin Hubble pada tahun 1929 mengungkap bahwa semua galaksi yang ada saling menjauh dan menjauh satu sama lain dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
§  Bahwa pergerakan menjauhnya semua galaksi ini disebabkan karena memperluasnya alam raya dan terus mengembang seperti balon.

Tafsir Ilmiah:
                Bahkan Edwin menantang penemu hukum relatifitas ‘Einstein’ untuk menempuh perjalanan dari Jerman ke Amerika untuk membuktikan terjadi peristiwa saling menjauhnya di antara semua galaksi dan bintang dengan bantuan teleskop.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa para ilmuan astronomi pertengahan kedua abad ke-20 M sepakat tentang hakikat meluasnya alam semesta dahulu, sekarang dan nanti. Dan telah jelas sudah secara penemuan ilmiah bahwa alam semesta ini dahulu pernah berawal dan pasti suatu saat akan berakhir. Maha benar Allah dengan firman-Nya ketika berkata:

سنريهم آياتنا فى الآفاق وقى أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق أولم يكف بربك أنه على كل شيء شهيد
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Qs Fussilat: 53)

                Kita bisa perhatikan di sini bagaimana antara ilmu al-Qur’an bersentuhan langsung dengan ilmu sains yang merupakan ilmu pengetahuan umum. Relevansi di antara keduanya begitu saling menguatkan dan menemukan satu titik yang kemudian melahirkan ketepatan. Dari sinilah kemudian begitu nampak bukti kemukjizatan al-Qur’an yang dibuktikan melalui hakikat ilmiah yang memperkuat bahwa al-Qur’an ini benar-benar berasal dari Allah swt, Sang Maha Pencipta satu-satunya di alam semesta.

Letak Mukjizat al-Qur’an:

                Letak mukjizat al-Qur’an pada ayat di atas adalah lafazh موسعون (muw’si’un) atau terus meluas yang bermakna bahwa alam semesta ini terus meluas / mengembang di masa dahulu, sekarang dan yang akan datang yang menandakan bahwa alam semesta ini akan terus berada dalam keadaan meluas dan mengembang, layaknya balon. Dan suatu saat pasti ia akan mengerucut yang mengindikasikan terjadi hari kiamat kubro (besar-besaran). Inilah penemuan ilmiah yang ditemukan oleh ahli astronomi (falak) Edwin Hubble pada tahun 1929 dan sejalan dengan kebenaran yang disebutkan oleh al-Qur'an dan hadits Rasulullah Saw.

Kesimpulan:

Jadi, sudah bagi kita yang mengerti sisi keilmuan yang terdapat al-Qur’an dan Hadits nabi kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang memperkuat bukti bahwa al-Qur’an ini benar-benar diturunkan dari Allah dan membawa petunjuk kebenaran bagi seluruh umat manusia serta membimbingnya ke arah hidayah Allah swt. Tidak ada alasan lagi bagi manusia setelah pembuktian ini selain meyakini al-Qur'an dan beriman kepada Allah dan hari akhir.

Semoga bermanfaat.

Wallahu A'lam

About Sohibul Qur'an

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Silahkan kommentar anda, jangan sungkan-sungkan